CLOSE
  • Super Administrator
  • 10 September 2015
  • Visitor
  • Serba-serbi
In Memoriam KH Muchith Muzadi
 
Oleh: Muhammad Sulton Fatoni
 

Pada awal tahun 1990-an saat saya masih duduk di bangku SMA. Saya sering kali mendengar cerita menarik dari kakak tentang dosennya di IAIN Jember yang menyenangkan. Namanya Kiai Muchith Muzadi. Di antara sisi menarik yang diceritakannya adalah sosok Kiai Muchith yang selalu bertanya sebelum memberi nilai mahasiswanya. "Kamu dari mana? Nama orang tuamu siapa?" Jika putra seorang kiai maka nilai bagus selalu didapat.

Kakak saya selalu mendapat nilai bagus dari Kiai Muchith karena saat "diinterogasi" ia mengaku putri kiai kampung pengasuh pesantren kecil di Lumajang. Namun, nilai tugas kuliah kakak saya tidak pernah lebih bagus dari seorang temannya yang masih keluarga Kiai Hamid Pasuruan yang terkenal sebagai waliyullah. Kakak saya pernah protes dan Kiai Muchith menjawab, "Anak kiai itu meski kuliahnya biasa saja, nanti ia jadi kiai atau bu nyai penerus perjuangan orang tuanya." Dan benar saja, saat ini kakak saya telah menyaksikan teman-temannya yang putra/putri kiai itu telah menjadi kiai yang mempunyai tanggung jawab mendidik santri-santrinya.

Saat saya mulai menginjakkan kaki di kantor PBNU pada awal tahun 1999 dengan aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), saya mulai tahu beberapa kiai yang selama ini hanya saya dengar melalui media massa, di antaranya Kiai Muchith Muzadi. Lahir di Tuban, 4 Desember 1925. Muchith muda pernah nyantri di beberapa pesantren, di antaranya di Pesantren Mathali"ul Falah Kajen Pati asuhan Kiai Mahfudh, ayahnya Rois Aam PBNU, KH MA Sahal Mahfudh dan di Pesantren Tebu Ireng Jombang asuhan KH Hasyim Asyari.

Interaksi serius saya pertama kali dengan Kiai Muchith pada 2003 saat saya terlibat dalam penulisan buku program LP Maarif NU, Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Kepercayaan Kiai Najid Mukhtar, ketua LP Maarif, saat itu yang mendorong saya berkunjung ke kediaman Kiai Muchith di Jember. Sesampainya di Jember, saya sempat kaget. Jika kebanyakan sosok kiai itu mengasuh pondok pesantren, berbeda dengan Kiai Muchith yang mengasuh jamaah masjid yang tepat berada di depan teras rumahnya.

Pada kunjungan saya kali pertama, Kiai Muchith menjelaskan banyak hal tentang gerakan keislaman yang diinisiasi para kiai Nahdlatul Ulama. Di antara penuturan Kiai Muchith adalah dinamika pemikiran yang terjadi sebelum Muktamar NU 1984 di Situbondo. Sebagaimana tercatat sejarah, Nahdlatul Ulama menerima Pancasila sebagai asas pada saat Muktamar NU 1984. Tak hanya itu, juga penegasan khitah NU yang secara otomatis keluar dari Partai Persatuan Pembangunan.

Kiai Muchith menuturkan, "Khitah NU 1984 dan penerimaan Pancasila itu didahului oleh diskusi-diskusi para pegiat NU. Tak jarang untuk sekadar konsumsinya cukup nasi bungkus yang dibeli dari warung-warung trotoar sekitaran Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, tempat kantor PBNU." Perjalanan panjang khitah NU selanjutnya menuntut generasi muda untuk meneruskan prestasi para ulama terdahulu. Caranya dengan tetap menjaga kemurnian NU sebagai "jam"iyyah diniyyah ijtima"iyyah" sebagaimana harapan para pendiri dan pendahulu.

Pada kunjungan pertama saya, juga terungkap sejarah Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin yang memutuskan tentang bentuk negara. Para kiai saat itu memilih redaksi "dar Islam" untuk mendeskripsikan suatu negara yang berbasiskan kedamaian (darussalam). Memilih redaksi "dar Islam" yang tanpa "al" (bukan darul Islam), menurut Kiai Muchith, merupakan kesengajaan untuk memberi pesan kepada anak bangsa generasi selanjutnya bahwa keinginan NU itu bukan negara Islam (Darul Islam atau daulah Islamiyah), sebagaimana yang dipersepsikan sebagian kecil aktivis politik kala itu. Teks "dar Islam" merujuk pada kitab fikih, Bughyatul Mustarsyidin karya Ba Alawy (1834-1902M) dari Hadramaut, Yaman. Perdebatan panjang adalah saat mempertemukan teks dengan konteks "Indonesia" era itu. Kemudian mencari formula agar pembaca memahami bahwa maksud teks "dar Islam" itu tidak dimaknai sebagai "dawlah Islamiyah" atau "Darul Islam".

Pada kesempatan ini, Kiai Muchith juga bertutur tentang kondisi Nahdlatul Ulama di masa awal. Agenda-agenda besar NU terkait pembangunan peradaban Muslim nusantara diselesaikan dengan cara yang praktis dan sederhana. Para kiai berpikir substantif dan tidak terjerat pada formalitas. Misalnya, kata Kiai Muchith, pada saat KH Abdulwahab Chasbullah berhasil bertemu Raja Ibn Su"ud dengan agenda yang begitu penting, para kiai cukup berkumpul di teras Masjid Ampel Surabaya. Kiai Wahab pun menyampaikan hasilnya di depan khalayak yang hadir layaknya pengajian rutin yang sering terlihat di pesantren-pesantren, tanpa ada forum formal Nahdlatul Ulama.

Setelah jeda cukup lama, saya kembali berkunjung ke kediaman Kiai Muchith di Jember pada 2010. Tugas saya sebagai ketua Kominfo PBNU (LTNNU) memotivasi saya untuk memberikan informasi baru tentang NU kepada masyarakat. Saya pun fokus belajar kepada Kiai Muchith tentang sosok KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Kiai Muchith termasuk sumber autentik tentang KH Hasyim Asyari. Tak kurang selama lima tahun Kiai Muchith menjadi santri KH Hasyim Asyari di Pesantren Tebu Ireng.

Di antara sisi menarik dari Kiai Hasyim Asyari, sebagaimana penuturan Kiai Muchith, adalah kecintaannya terhadap anak-anak, terlebih para santrinya. Mbah Hasyim Asyari menjaga santrinya sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada Allah SWT. Santri diminta untuk konsentrasi belajar agama, tidak untuk aktivitas lainnya. Muchith remaja bersama santri lainnya pernah ingin mendengarkan tentang perkembangan Nahdlatul Ulama dari Mbah Hasyim Asyari. Namun, keinginan tinggal keinginan, Kiai Hasyim Asyari tak berkenan dan para santri pun tak terbebani persoalan Nahdlatul Ulama.

Di akhir penuturannya, Kiai Muchith berpesan agar pengurus Nahdlatul Ulama menjalin hubungan dengan penguasa secara normal saja. Tak perlu terlalu akrab dengan penguasa. Sejak era Belanda, Jepang, Orde Lama, hingga Orde Baru, sejarah watak penguasa itu menipu Nahdlatul Ulama. Kiai Muchith ingin NU tidak lagi sebagai kelompok yang "harus ditinggalkan", tetapi menjadi "pihak yang selalu diperlukan."

Beberapa kali saya ingin berkunjung lagi dan lagi. Tetapi, kesibukan Kiai Muchith yang menyulitkan saya mengatur kesesuaian waktu. Rupanya dalam usianya yang sangat lanjut, Kiai Muchith makin sibuk mondar-mandir Jember-Malang. Kiai Muchith mempunyai rutinitas mengajar di Pondok Pesantren Mahasiswa al-Hikam, Malang, asuhan sang adik, KH Hasyim Muzadi. Di antara kitab yang Kiai Muchith ajarkan kepada para santri mahasiswa adalah Fathul Qarib al-Mujib, bidang kajian hukum Islam.

Kini Kiai Muchith telah wafat di Malang dalam usia 89 tahun 8 bulan 7 hari. Jika dihitung dari tahun mendapatkan kartu anggota NU, tak kurang sudah 74 tahun Kiai Muchith ikut Nahdlatul Ulama. Kiai Muchith dimakamkan di Jember, kota yang ia cintai selama ini. Selamat jalan Kiai Muchith.


Ketua PBNU, Dosen UNU Jakarta dan UNU Indonsia

Artikel dimuat di Republika, 07 September 2015